Dua Siswa Masih Dirawat, Sampel Makanan MBG Diuji

Reporter : Redaksi
Kondisi siswa-siswi SMPN 1 Mojoanyar saat dilakukan penanganan tim medis dari PMI Mojokerto usai diduga keracunan menu MBG (foto : clara_beritaformat)

MOJOKERTO || Penanganan siswa SMPN 1 Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, yang mengalami mual, muntah dan diare setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dipantau.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati, saat dihubungi awak media pada Rabu, 7 Oktober 2026 malam, menyampaikan bahwa makanan yang dikonsumsi para siswa masih dalam proses uji sampel. Penelusuran untuk mengetahui penyebab munculnya gejala juga masih dilakukan.

Baca juga: Pemdes Claket Lantik Dua Perangkat Desa Baru

“Untuk makanan masih dilakukan uji sampel dan dilakukan penelusuran,” ujar Dyan.

Sementara itu, dari siswa yang sebelumnya mendapatkan penanganan medis, kini tersisa dua siswa yang masih menjalani perawatan di Puskesmas Gayaman.

Menurut Dyan, kondisi kedua siswa tersebut stabil dan masih dalam masa observasi untuk memastikan proses pemulihan kesehatan berjalan baik.

“Untuk saat ini masih ada dua siswa yang dirawat di Puskesmas Gayaman. Kondisinya stabil dan dalam masa observasi untuk pemulihan kesehatan,” jelasnya.

Sebelumnya, sebanyak 17 siswa dilaporkan mengalami gejala dan mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Keluhan mulai dirasakan pada Rabu pagi, sehari setelah siswa menyantap menu MBG berupa ayam, bumbu kacang sate dan acar.

Baca juga: Salip Truk Tak Cukup Ruang, Pengendara PCX Tewas di Gedeg

Makanan tersebut berasal dari salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Mojoanyar yang melayani sekitar 2.919 penerima manfaat.

Namun, hingga Rabu malam, belum ada kesimpulan resmi bahwa makanan MBG menjadi penyebab gangguan kesehatan tersebut. Kepastian masih menunggu hasil uji sampel dan penelusuran Dinas Kesehatan.

Dengan demikian, untuk sementara yang dapat dipastikan adalah adanya gejala kesehatan pada sejumlah siswa setelah konsumsi makanan MBG, sedangkan hubungan sebab-akibatnya masih menjadi objek pemeriksaan.

Baca juga: Persneling Macet, Livina Mendadak Jadi Bara di Cerme

Program makan bergizi memang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak. Tetapi ketika sejumlah penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan, maka uji keamanan pangan dan penelusuran rantai distribusi menjadi sama pentingnya dengan kandungan gizi di dalamnya.

Hasil pemeriksaan dan uji sampel menjadi dasar penting untuk menjawab satu pertanyaan utama, apa sebenarnya yang membuat para siswa jatuh sakit?

Kontributor : Clara
Penyunting : W13D
Kategori : Peristiwa
Sumber : Konfirmasi

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru